JAKARTA, KOMPAS.com – Politisi muda Partai Golkar, Meutya Hafid berharap, penyelenggaraan musyawarah nasional menjadi kesempatan untuk Golkar buat bangkit dari keterpurukan.
Ia meminta agar panitia munas yg nantinya dibentuk DPP Partai Golkar hasil Munas Riau, bisa menyelenggarakan munas secara demokratis dan transparan. (Baca: Ketum MKGR Belum Dengar soal Isu Politik Uang di Munas Golkar).
“Munasnya harus penuh dengan perdebatan ide, bukan transaksional. Nir boleh ada intimidasi, dan pemegang suara mampu memberikan hak suaranya tanpa terintimidasi,” kata Meutya dalam diskusi bertajuk “Mau Kemana Golkar?” di Jakarta, Minggu (21/2/2016).
Wakil Ketua Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat itu mengapresiasi banyaknya nama yg muncul sebagai calon ketum Golkar.
Menurut dia, hal itu memamerkan bahwa demokrasi sudah berjalan di dalam partai berlambang pohon beringin itu.
Sejauh ini, ada 12 nama kader Golkar yg dianggap layak menjabat sebagai ketum berikutnya. (Baca: Ketum Golkar Sebaiknya Tak Rangkap Jabatan).
Namun, baru empat orang yg secara tegas sudah menyatakan diri bagi memperebutkan kursi ketua umum, merupakan Mahyudin, Idrus Marham, Aziz Syamsudin, dan Airlangga Hartarto.
“Kalau kalian bicara kriteria, maka calon itu harus dapat membawa Golkar menjadi partai yg demokratis, modern, dan dekat dengan publik. Kita juba perlu rebranding, konseptor yg kuat dan cerdas,” ujar Meutya.
Sumber: http://ift.tt/1mmsIby