JAKARTA, KOMPAS.com – Langkah Presiden Joko Widodo melakukan groundbreaking atau upacara meresmikan proyek kereta cepat Jakarta-Bandung dinilai terburu-buru.
Setelah diresmikan, berbagai polemik justru muncul terkait proyek yg dilakukan oleh konsorsium BUMN Indonesia dan China yg tergabung dalam PT PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC).
“Kalau yg melakukan groundbreaking, meresmikan proyek, hanya sekelas menteri dahulu ditolak rakyat itu masih mending. Ini Presiden loh, pemimpin negeri ini. Wibawa negara jatuh, rakyat semakin hilang kepercayaan, ditinggalkan. Artinya Jokowi tak becus memimpin,” kata Ketua Generik Gerakan Cinta Tanah Air Persatuan Nasionalis Indonesia (Getar PNI), Syamsuddin Anggir Monde, Sabtu (30/1/2016).
Polemik yg muncul antara lain, belum dikeluarkannya izin pembangunan dari Kementerian Perhubungan.
Belakangan, diketahui pula bahwa kereta api cepat Jakarta-Bandung menelan biaya jauh lebih mahal ketimbang proyek serupa di Iran.
Pembangunan kereta cepat di Indonesia dengan jarak 150 kilometer menelan dana hingga 5,5 miliar dollar AS. Ad interim pembangunan kereta cepat di Iran dengan jarak 400 kilometer cuma membutuhkan dana 2,73 miliar dollar. Padahal, kedua proyek kereta cepat itu sama-sama bekerjasama dengan China Railway International.
Pihak kedutaan besar China di Jakarta pun harus memberi penjelasan tentang hal itu.
Menurut Syamsuddin, berbagai polemik yg timbul menandakan hilangnya kepercayaan rakyat pada Presiden Joko Widodo, termasuk pemerintahan secara menyeluruh.
Ia mengatakan, Presiden Joko Widodo harusnya lebih teliti dalam memperhitungkan untung rugi sebuah proyek agar publik bisa menerimanya dengan baik.
Ia menambahkan, telah kesekian kali Presiden Jokowi memamerkan sifat seorang pemimpin yg tak teliti dan cermat.
“Dulu keliru menandatangani peraturan presiden menaikkan uang muka pembelian kendaraan untuk pejabat negara, salah menyebut tempat kelahiran Bung Karno, dapat jadi proyek kereta cepat ini yang berasal tandatangan dan groundbreaking saja,” ucapnya.
Sumber: http://ift.tt/1mmsIby