JAKARTA, KOMPAS.com – Selain bersilaturahim dan berkonsolidasi dengan Dewan Perwakilan Daerah tingkat I dan II, setiap calon ketua umum juga berbagi gagasan bagi mengembalikan kejayaan Partai Golkar.
Di hadapan pengurus Dewan Perwakilan Daerah Partai Golkar Jawa Tengah, Mahyudin sempat memaparkan visi dan misinya seandainya ia berhasil lolos pada pemilihan ketua umum ketika Musyawarah Nasional bulan April 2016.
Dia menyampaikan ada banyak permasalahan yg harus langsung dibenahi agar Golkar kembali solid dan berjaya. Salah sesuatu contoh persoalan yg perlu dibenahi terjadi saat masa pemilihan presiden dan wakil presiden yg lalu.
Mahyudin menyayangkan banyaknya kader-kader partai yg dipecat karena mendukung pasangan capres dan cawapres yg tak diusung oleh Golkar. Padahal kader tersebut memiliki kualitas organisasi yg baik.
Akibatnya, banyak kader Golkar yg menang pilkada tetapi tak diusung oleh Golkar, bahkan independen. Menurutnya persoalan tersebut cuma mampu diselesaikan dengan pendekatan persuasif dan kekeluargaan.
“Saya tak suka memecat orang lain. Masalah seperti itu seharusnya diselesaikan dengan pendekatan kekeluargaan, kalau perlu dibina, buat memperlihatkan Golkar itu solid,” ujar Mahyudin di Solo, Jawa Tengah, Selasa (23/2/2016) malam.
Permasalahan yang lain yg krusial, lanjutnya, adalah soal korupsi dan praktik suap. Kedua fenomena negatif inilah yg membuat Golkar menjadi rapuh.
“Korupsi harus hilang dari indonesia. Sogok-menyogok harus dibereskan,” tegas Mahyudin.
Dia optimistis bisa mengatasi masalah tersebut dengan komitmen yg sungguh-sungguh dari segala kader partai. Asa itu, menurut Mahyudin, harus diwujudkan dengan kerja nyata melalui pelaksanaan program-program kesejahteraan rakyat yg mengacu pada Visi Indonesia 2014.
“Saya mulai membuat program yg menyejahterakan rakyat sebagai program unggulan. Asa perlu diwujudkan dengan kerja nyata melalui Visi Indonesia 2045,” pungkasnya.
Sementara itu, Idrus Marham mengatakan, tantangan terberat buat ketua umum ke depan adalah mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap eksistensi politik partai berlambang pohon beringin itu. Saat ini, menurut Idrus, tingkat kepercayaan masyarakat telah menurun drastis.
“Memang seperti itu faktanya. Itulah tantangan ketua umum partai Golkar ke depan,” ujar Idrus Marham ketika ditemui di Tebet Timur, Jakarta Selatan, Kamis (25/2/2016).
Ia mengungkapkan bahwa turunnya tingkat kepercayaan masyarakat terjadi karena banyak pejabat dan anggota dewan tak memiliki kemampuan yg sepadan. Bagi Idrus, fakta tersebut menjadi masalah yg harus dipecahkan oleh Partai Golkar. Masyarakat menjadi sulit buat menuntut kinerja dan produktivitas dari pejabat-pejabat publik yg notabene itu adalah kader partai politik, karena tak memiliki kemampuan yg baik.
“Siapa yg paling bertanggungjawab? Ya Parpol. Salah sesuatu fungsi partai adalah kader poliitik bagi menduduki jabatan-jabatan strategis,” ungkapnya.
Permasalahan yang lain yg tak kalah utama adalah soal soliditas pasca-konflik antara kubu Aburizal Bakrie dan Agung Laksono. Ade Komarudin berbicara tentang perlunya kegotong-royongan segala kader Partai Golkar bagi membangun kebersamaan.
Dia mengimbau kepada semua kader Golkar bagi mampu melaksanakan munas yg demokratis, rekonsiliatif dan berkeadilan serta menahan diri bagi memberikan komentar-komentar yg membuka peluang lahirnya konflik baru.
“Soliditas buat kembali bersatu dalam semangat rekonsiliasi diperlukan bagi melupakan seluruh perbedaan, perselisihan, dan perpecahan yg pernah ada. Sehingga jalannya organisasi Partai Golkar berjalan solid,” ucap dia.
Selain itu, komitmen buat membangun kembali Partai Golkar juga diutarakan oleh Setya Novanto. Ia menyanggupi permintaan Dewan Perwakilan Daerah wilayah NTT bagi mundur dari jabatan ketua fraksi di Dewan Perwakilan Rakyat RI apabila dirinya terpilih sebagai ketua umum Partai Golkar. Dengan begitu ia dapat mencurahkan segala perhatiannya dalam memperbaiki kinerja partai.
Sumber: http://ift.tt/1mmsIby