Kendari -Jalan-jalan di Kota Kendari belum sempurna rasanya kalau tak bawa pulang oleh-oleh kacang mete. Di ibukota Provinsi Sulawesi Tenggara ini sangat gampang mencari toko yg menjual kacang Mete yg telah digoreng.
Seperti di jalan poros By-Pass Bunga Kumala, Kendari Barat, terdapat Toko Mubaraq Lombe, yg menjual kacang mete goreng berbagai rasa, seperti manis, asin dan pedas. Setiap bulannya, sekitar 25 pekerja UD. Mubaraq Lombe mengolah hingga 2 ton mete, dari biji mete yg sudah dipisahkan dari cangkangnya.
|
|
Harga mete gelondongan senilai Rp 20.000/ kilogram (kg). Jika telah dipisah dari cangkangnya harganya menjadi rata-rata Rp 95.000/kg dan setelah digoreng harganya naik menjadi Rp 137.000/kg.
Mete ini didatangkan oleh pemilik Mubaraq Lombe, Laode Mane dari kampung halamannya di Lombe, Kecamatan Gu, Kabupaten. Buton Tengah, Sulawesi Tenggara. Usaha pengolahan kacang mete ini dirintis Laode sejak tahun 1986 ketika masih menjadi mahasiswa di jurusan Agrobisnis, Universitas Haluoleo, Kendari.
Manajer UD. Mubaraq Lombe, Muhaimin pada detikcom yg ditemui di tokonya, Sabtu (20/2/2016), menyebutkan setiap bulan omzetnya Rp 200 juta. Omzetnya melonjak di bulan Puasa, dapat mencapai Rp 500 juta.
Menurut Muhaimin, kacang mete ini lebih menguntungkan seandainya diolah menjadi makanan khas, dibandingkan dengan mengekspor mete gelondongan ke dua negara seperti India, Malaysia dan Filipina.
“Suplai Mete nasional sekitar 37% dari Sulawesi Tenggara, terbesar di Indonesia, dibandingkan diekspor lebih menguntungkan buat pasar dalam negeri jadi makanan oleh-oleh,” ujar Muhaimin.
|
|
Muhaimin berharap, buah jambu mete dapat menjadi bahan olahan baru lagi seperti menjadi kripik atau sirup. Saat ini buah Jambu Mete setelah dipisahkan dari cangkang metenya segera dibuang begitu saja.
“Buah jambu mete ini mengandung Vitamin C yg lebih tinggi dari jeruk, kalian berharap binaan dari pemerintah buat bahan olahan baru dari jambu mete ini,” pungkas mantan Guru SD ini.
(mna/hns)
Sumber: http://ift.tt/1m2K6Bu