Ramlan Surbakti dalam tulisannya, “Parpol, Penggerak Demokrasi”, (Kompas, 8/1) menjabarkan peran utama partai politik dalam demokrasi. Namun, merujuk pada pengalaman Indonesia, “tak ada parpol yg dikelola secara demokratis melainkan secara oligarki, bahkan personalistik.”
Disebutkan juga, sumber penerimaan penting parpol adalah kalangan elite internal sehingga kurang peduli kepada anggota.
Selain itu, disiplin parpol sangat rendah. Singkat kata, parpol di Indonesia umumnya belum dapat berperan sebagai penggerak demokrasi perwakilan dan pemerintahan demokratis.
Guru besar ilmu politik ini tak mengada-ada. Hal ini sekaligus jadi peringatan untuk parpol membenahi diri ke arah ideal yg bermuara pada menggerakkan demokrasi yg berkualitas di negeri ini.
Parpol dalam negara demokrasi bak tulang punggung penting, tak saja dalam mewarnai demokrasi, tapi juga dalam hal pembangunan politik.
Parpol yg kuat dan fungsional tentu mendorong terwujudnya pembangunan, dan bukan pemerosotan politik. Kalau diperas, inti pembangunan politik ialah stabilitas yg demokratis dengan dampak kemaslahatannya.
Parpol-parpol kami mengalami banyak situasi yg membuatnya terjebak pada wajahnya yg paradoksal. Hampir seluruh fungsi yg dilekatkan kepadanya, apakah pendidikan dan sosialisasi, akomodasi dan agregasi, rekrutmen dan pengaderan anggota, atau lainnya, nilainya cenderung masih tekor.
Meminjam istilah Katz dan Mair (1993), tiga wajah partai: nilai mereka di ranah parlemen dan pemerintahan, di akar rumput, dan pengelolaan internal lembaga juga belum memuaskan.
Sering kali parpol bukan bagian dari solusi kehidupan nyata masyarakat dan bangsa, melainkan bagian dari kompleksitas masalah.
Oligarki lebih banyak tidak mengurangi buram wajah parpol kami sebagai entitas-entitas “kepemilikan personal” yg jauh dari kepentingan publik. Agenda tersembunyi memenangi kepentingan para aktor oligarki, konsep yg oleh Jeffrey Winters diperbarui dengan memperkenalkan fenomena pertahanan kekayaan, kini lazim bersifat terbuka. Pertarungan internal antarelite parpol pun semakin bercorak pragmatis-transaksional, tidak lagi mencerminkan konflik ideologis.
Liberalisasi politik yg tergilas corak pragmatis-transaksional itulah yg tergambar dalam wajah kebanyakan parpol kita.
Parpol jadi wahana politik yg ironisnya “tanpa politisi”. Kualifikasi internal parpol terdegradasi oleh semata-mata kekuasaan formal yg dikendalikan aktor oligarki yg aneh.
Sumber: http://ift.tt/1mmsIby