Revisi dibukanya Daftar Negatif Investasi (DNI) di sektor usaha film bidang produksi, eksibisi dan distributor oleh pemerintah belum mencapai babak akhir. Namun rupanya hal itu telah menuai pro dan kontra, terutama dari organisasi perusahaan film yg kini terpecah menjadi beberapa yakni APFI dan PPFI.
APFI atau Asosiasi Perusahaan Film Indonesia yg dimotori Chand Parwez menolak tegas dibukanya DNI. Pemilik rumah produksi Starvision itu berpendapat seandainya penanaman modal asing mampu berakibat pada makin meluasnya distribusi film mereka.
“Usaha film dibagi dalam tiga bidang yakni produksi, distribusi dan eksibisi. Kami merasa cukup dapat buat produksi dan tak butuh pihak dari luar. Lalu soal distribusi dan eksibisi apabila dibuka bagi asing, mulai mempermudah mereka mendistribusikan filmnya. Bukan memberi ruang buat film nasional, malah memperluas film asing. Kami tegas menolak dari awal,” kata Chand ketika ditemui dua waktu lalu.
Sementara dari kubu berseberangan, yakni Persatuan Perusahaan Film Indonesia (PPFI) menilai banyak hal positif mampu didapat dari dibukanya DNI. Manoj Punjabi selaku ketua menyampaikan telah saatnya film lokal tumbuh dimulai dari mengubah pola pikir.
“Mental mengenai bangsa asing bakal tak support budaya harus kalian hilangkan. Mereka mau bisnis di sini silakan, karena mereka juga bayar pajak. Saya kira mindset kami harus berubah, jangan takut kompetisi. Itu mulai bikin kami lebih pintar. Lebih baik adu pintar daripada bodoh-bodohan,” ucap Manoj dalam jumpa pers di PPHUI, kawasan Rasuna Said, Jakarta Selatan, Selasa kemarin (9/2).
Hal senada juga tiba dari Lala Timothy selaku ketua APROFI (Asosiasi Produser Film Indonesia) bahwa revisi DNI mulai sangat menguntungkan beberapa pihak. Nir cuma buat pelaku film saja, tetapi juga negara.
“Investasi asing tak cuma menolong film maker kita, tetapi juga memberi penghasilan bagi negara dalam bentuk pajak. Sudah saatnya industri film memberi sumbangan besar buat negara karena kami mempunyai potensi besar buat itu,” tegas produser MODUS ANOMALI ini.
Sumber: http://ift.tt/H1M3Lj