SERANG, KOMPAS.com — Meski kelompok ISIS telah membahayakan keamanan Indonesia, pemerintah tak mulai memeranginya melalui perang fisik seperti yg dikerjakan sejumlah negara.
Menurut Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Luhut Binsar Pandjaitan, tawaran buat memerangi ISIS pernah disampaikan Arab Saudi. Namun, pemerintah menolak.
“Tapi pemerintah berpandangan, cara militer terus tak berhasil dan malah memperlebar jarak permusuhan kita,” ujar Luhut ketika pengarahan pencegahan radikal di Serang, Banten, Senin (29/2/2016).
“Pemerintah berpandangan, pendekatan yg kami lakukan harus soft approaching, yakni pendekatan agama dan pendekatan budaya. Pemerintah kalian lebih memilih itu,” ucap dia.
Oleh sebab itu, Luhut tidak setuju seandainya Indonesia ikut-ikutan membombardir wilayah ISIS yg ada di Suriah. Hal ini dikerjakan sejumlah negara, misalnya Perancis, Amerika Serikat, serta Rusia.
“Indonesia jangan seperti itulah. Intinya kalian seluruh telah paham bahwa ISIS bukan Islam dan Islam bukan ISIS,” ucap Luhut.
Memerangi radikalisme bukan cuma kinerja sesuatu lembaga atau kementerian. Menurut Luhut, segala unsur di negara ini harus ikut melakukannya.
Unsur itu akan dari kepala daerah, kepala keamanan wilayah, para penjaga pertahanan teritorial, hingga pemuka agama juga harus ikut upaya melawan radikalisme.
Secara spesifik, Luhut menyebutkan dua unsur yg diharapkan dapat menjadi ujung tombak keamanan teritorial, yakni lurah dan camat, Babinsa, serta Babinkamtibmas.
“Saya berharap bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian memainkan peran ini. Model kecil saja. Mari laporkan ke pimpinan seandainya ada hal-hal yg mencurigakan di wilayah bapak dan ibu semua,” ujar dia.
Sumber: http://ift.tt/1mmsIby