JINGGAsebuah film garapan sutradara cantik, Lola Amariayang juga memegang peran sebagai produser ini mengangkat kisah kehidupaan kaum tunanetra. Penggunaan warna sebagai nama karakter dalam film tersebut memiliki makna.
Lolapercaya bahwa kehidupan kaum tunanetra tak segelap yg mereka lihat, melainkan warna warni. Keempat karakter dalam film ini, Jingga, Marun, Magenta dan Nila memiliki latar berbeda-beda tentang kebutaan yg mereka alami.
“Nama karakter utamanya adalaah Surya Jingga, seperti matahari ketika terbit yg berwarna jingga. Nir ada matahari yg terbit tanpa tenggelam terlebih dahulu. Hayati Jingga tidak berakhir setelah dia divonis buta. Ia masih dapat menginspirasi banyak orang,” papar Lolasaat press screening film JINGGAdi Kineforum, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat belum lama ini.
Masih banyaknya masyarakat yg tak peduli dengan penyandang tunanetra membuat hati Lola tergerak buat membuat film tersebut. Ia membuat jalan cerita yg memamerkan bagaimana kebutaan dapat terjadi kepada orang-orang yg berkebutuhan khusus tersebut.
“Film tunanetra banyak. Tapi kenapa mereka mampu jadi tunanetra, itu jarang. Orang tunanetra tidak jarang dilihat sebelah mata. Dicuekin, itulah kenapa aku bagi film ini,” lanjutnya.
Tak ingin kelihatan monoton, Lola mengemas film JINGGAterlihat tegang di awal. Yang kemudian memunculkan suasana bahagia, konflik, drama dan diakhiri dengan situasai yg mengharukan.
“Saya mau penonton merasa seperti Jingga. Yang dari low vision, jadi buta. Yah begitu memang kehidupan, ada yg tiba dan pergi. Saya mau mengaduk-aduk emosi penonton,” tandas Lola.
Sumber: http://ift.tt/H1M3Lj