Belitung – Ibarat pesawat terbang, sedari awal tahun 2016 kemarin, XL Axiata telah tidak lagi berdiam diri buat boarding. Operator biru tersebut sudah mengambil ancang-ancang lepas landas dan mengangkasa.
Demikian Presiden Direktur XL Axiata Dian Siswarini menganalogikan perjalanan perusahaan telekomunikasi yg baru dipimpinnya pada April 2015 tersebut.
DIjelaskan Dian, tahun 2014 dapat dibilang sebagai tahun konsolidasi untuk XL, dulu belanjut di 2015 sebagai tahun transformasi, dan 2016 ini yaitu waktunya breakthrough. “Atau saatnya kami lepas landas,” ujarnya dalam acara media gathering XL Axiata di Belitung, 17-19 Februari 2015.
Dian sendiri adalah karyawan XL tulen. Eksekutif wanita ini merintis karir benar-benar dari level bawah dengan pekerjaan sebagai orang jaringan dengan aktivitas ‘keseharian’ memanjat tower telekomunikasi sampai akhirnya dipercaya buat menduduki kursi empuk nakhoda menggantikan Hasnul Suhaimi.
Nah, pada kepemimpinan Dian inilah XL menggalakkan program 3R (Revamp, Rise dan Reinvent). Revamp, mengubah model bisnis pencapaian jumlah pelanggan (dari ‘volume’ ke ‘value’), strategi distribusi serta meningkatkan profitabilitas produk. Rise, meningkatkan nilai brand XL melalui strategi dual–brand dengan Axis buat menyasar segmen pasar yg berbeda. Reinvent, membangun dan menumbuhkan berbagai inovasi-inovasi bisnis.
“Ketika menjalankan bisnis kami memiliki tiga tujuan penting yg ingin dituju sebagai perusahaan, yakni memberikan kontribusi bisnis, sosial, dan finansial. Dan sejauh ini 3R telah kelihatan berhasil memberikan pencapaian bisnis di 2015,” ungkap Dian.
“Kita menyederhanakan produk portofolio sampai 50% dengan menghilangkan produk yg tak menguntungkan, jadi bisnis kalian berubah dari volume ke value. Ada artikel yg bilang, ‘wah, XL sekarang nomor empat’, dilihat dari subscribernya yg berkurang. Karena yg kurang itu jumlah subcriber, padahal yg kalian lakukan adalah meningkatkan pengguna produktif,” lanjutnya.
Pencapaian berikutnya adalah mengubah jalur distribusi tradisional (re-clustering) yg cukup bikin heboh juga. Namun XL pede bahwa perubahan tersebut buat membuat sistem distribusi tersebut jadi lebih efisien dan ramping.
“Kami juga meningkatkan brand position XL dari price leader menjadi value. Kita telah berhasil menjadi penyedia layanan 4G LTE tercepat di 35 kota. Jadi memang nggak hanya asbun (asal bunyi),” Dian menegaskan.
Selanjutnya, dual brand tetap dijalankan lewat Axis buat menjamah pasar yg tidak tersentuh XL atau sebagai produk penyerang (attacker) untuk pemimpin pasar di suatu kota. Untuk Axis, Dian mengklaim seandainya brand awarness Axis ketika ini melesat sampai 61%. Pencapaian berikutnya adalah memperkuat bisnis distribusi modern.
“Jadi proses konsolidasi di 2014 dan transformasi di 2015 yg telah kalian jalankan telah kelihatan hasilnya. Dimana pelanggan high value kalian meningkat 13%, churn rate pun turun 42%. Sedangkan indikator lainnya adalah trafik data melesat 75% serta ARPU pelanggan naik 43%,” paparnya.
Adapun di tahun 2016, proses transformasi ini masih bakal berpatokan dari roadmap sebelumnya. Yakni dengan mulai lebih menggenjot pelanggan high value, ekspansi 4G LTE, lebih memaksimalkan Axis, menjadi pemain layanan digital serta menggencarkan mobile broadband.
“Dulu waktu pertama kali launching 3G di tahun 2006/2007, XL dan player yang lain mencoba mengeluarkan mobile broadband, tetapi ternyata teknologi 3G tak mendukung. Nah, sekarang lewat LTE baru dapat memberikan layanan prima bagi mobile broadband,” cerita Dian yg memang milik latar belakang bagi urusan jaringan.
Capex (capital expenditure) Rp 7 triliun jadi amunisi XL buat bersaing di medan tempur operator seluler dan layanan digital. Dari belanja modal tersebut, Dian memastikan bahwa 40% alokasinya bakal digunakan buat pembangunan jaringan 3G dan 60% sisanya buat ekspansi 4G LTE.
(ash/rou)
Sumber: http://inet.detik.com