Tentu bukan hal yg gampang bagi tetap menukangi band selama bertahun-tahun. Seperti KunoKini yg mengawalinya dengan 8 personel dan kini cuma menyisakan 3 orang. Lalu, ada apa dengan unit folk-indie Ibukota ini?
“Dari awalnya gua sama Bembi dari tahun 2003, pas tahun 2011 itu anak-anak pada cabut semua. Jadi tinggal berduaan doang sama Bembi. Ya, Alhamdulillah berduaan doang, karyanya jadi mekar. Pas tahun 2013 Fikri ikutan jadi additional,” jelas Bhismo ketika KunoKini bermain ke kantor Redaksi KapanLagi.com, Tebet, Jakarta Selatan, Kamis (11/2).
Memang, keluar-masuk personel adalah hal yg wajar, lumrah, dan pasti dialami hampir segala band. Tapi buat KunoKini, nyatanya dua personel belum cukup kuat bagi mempertahankan idealisme dalam menyajikan musik lewat sejumlah instrumen khas Tanah Air.
“Itu udah tumbang-tumbang di tahun kedua, kan waktu itu masih baru lah. Waktu itu kalian mau bikin gimana ini musik mampu dinyanyiin. Waktu itu kan ada nggak ada alat musik bernada, selalu tiba-tiba bebannya ada di gua, gua disuruh nyanyi. Jadi pengetahuan yg sedikit gua lebih ke rebana,” lanjutnya.
Beruntung kehadiran Fikri bisa menguatkan langkah KunoKini dalam skena dan industri musik Tanah Air. Sempat merasa ingin bagi berkenalan dengan musik yg dibawa KunoKini, akhirnya Fikri pun bertemu dengan Bhismo dan Bembi yg membuat mereka akhirnya berada di bawah nama yg sama.
“Dulu waktu kuliah di Bandung, tahun 2008 2009 itu mereka tidak jarang banget manggung di Bandung. Terus melihat mereka main dengan alat tradisional, kebetulan gua juga suka mainin alat seperti drum, perkusi. Waktu itu gua bingung, gimana yah belajar gendang itu. Padahal di Bandung itu banyak banget (tempat belajar) hanya gua enggan bagi mendatangi sanggar. Akhirnya aku hanya dapat melihat mereka di tahun 2008 2009. Pas 2013 baru ketemu pas aku manggung, mereka berdua dateng, kenalan deh. Ngobrol aku bilang mau belajar gendang. Terus dateng ke tempat Bhismo, latian, akhirnya ngerasa nge-jam lanjut, ya udah. Akhirnya 2015 Desember mutusin masuk (KunoKini). Mereka berdua hampir 10 tahun konsisten main alat musik tradisional itu nggak ada di Indonesia, ya udah aku menawarkan diri buat gabung. Mereka juga merespon aku bagi mengajak bergabung dari awal hanya sama-sama nggak enak,” pungkasnya.
Sumber: http://ift.tt/1cYzikY