Cerita Preman Tersungkur Hingga Mati Ditembak Anggota TNI

Arsyad alias Batara begitulah warga memanggilnya. Sapaan itu diberikan kepada lelaki berusia 45 tahun itu karena dikenal sebagai preman penguasa kompleks tempat tinggalnya di Jalan Batua Raya, Lorong Mandengen, RT 7/6, Makassar, Sulawesi Selatan.

Tingkah laku Batara yg kerap mabuk dan ganggu istri orang membuat warga sekitar perumahan itu sangat resah. Namun warga takut kepadanya. Sebab, Batara diketahui yaitu seorang residivis dan memiliki banyak tato.

Namun, Kamis (11/2) kemarin menjadi hari terakhir petualangan Batara. Ia tewas di Mapolsek Manggala, sekira pukul 05.00 WITA, setelah timah panas punya Serka Kaharuddin mengenai paha kanan menembus dan bersarang di paha kirinya. Tembakan itu terpaksa diberikan anggota unit intel Koramil 08 Makassar lantaran diserang Arsyad dengan badik.

Peristiwa ini terjadi di depan rumah Serka Kaharuddin, Jalan Bontobila 12, Kecamatan Manggala, belakang kantor Koramil 10 Panakkukang, Rabu (10/2). Awalnya yg hendak diserang dengan badik adalah Sari, istri Rasyid yg juga tetangga Kaharuddin. Saat dikejar preman itu, Sari berlari ke arah rumah Serka Kaharuddin. Kebetulan di situ ada Rasyid. Rasyid coba menghalau Batara namun ikut diserang oleh preman yg sehari-harinya dikenal suka menenggak minuman keras.

Melihat kejadian itu Kaharuddin coba menghalangi Batara, namun justru dia yg juga jadi sasaran amuk. Badik yg ditebaskan Batara mengenai lengan kiri Kaharuddin.

Merasa terancam, Kaharuddin kemudian mencabut pistolnya. Tembakan peringatan tak digubris, akhirnya Batara dilumpuhkan dengan tembakan di paha.

Mendapat laporan atas kejadian tersebut, Anggota Koramil 10 Panakkukang segera mendatangi Loka Kejadian Perkara (TKP), menyusul Kapolsek Manggala, Kompol Akbar Setiawan berikut anggotanya. Sebelum dibawa ke Rumah Sakit (RS) TNI AD Pelamonia, Serka Kaharuddin sempat dibawa ke Puskesmas Batua buat penanganan awal lukanya. Demikian juga dengan Batara yg bersimbah darah di depan pagar rumah Serka Kaharuddin ikut dievakuasi ke RS Pelamonia dan selanjutnya dibawa ke RS Bhayangkara.

Dari tempat kejadian, polisi mengamankan sebilah badik punya lelaki dengan tubuh bagian atas penuh tatto itu. Selain itu, pistol punya Serka Kaharuddin, ikut diamankan Pasi Intel Kodim 1408/BS Makassar, Mayor Inf Azhari.

Ihwal kejadian ini bermula dari ketersinggungan Batara terhadap keluarga Sari. Batara sebelumnya menumpang di rumah keluarga Sari dan Rasyid, namun, karena Batara seorang pengangguran yg doyan mabuk-mabukan dan konsumsi narkoba, dia pun diminta tinggalkan rumah tersebut. Tak terima Batara akhirnya mengejar Sari bagi membunuhnya.

Sementara itu, Pangdam VII/Wirabuana, Mayjen TNI Agus Surya Bakti yg ditemui di sela-sela sertijab Danyonif 700/Raider dari Letkol Inf Sapto Irianto ke Mayor Inf Horas Sitinjak di Mako Yonif 700/Raider menjelaskan, anggota TNI ini mengeluarkan tembakan karena diserang oleh pelaku dalam keadaan mabuk.

“Ada ribut-ribut depan rumahnya, anggota kami ini keluar dan coba menghentikan kebrutalan pelaku yg selalu bermaksud menyerang. Akibatnya anggota kalian terluka di tangan. Karena merasa terancam, anggota ini berhak membela diri. Bubut pistol dahulu keluarkan tembakan peringatan. Masih selalu dikejar, akhirnya tembak di kaki dulu pelaku terjatuh,” kata Mayjen TNI Agus Surya Bakti, kemarin.

Sebenarnya, kata Agus, ketika di Rumah Sakit (RS) Bhayangkara keadaan pelaku membaik usai peluru dikeluarkan. Sehingga polisi membawanya ke Polsek Manggala buat diproses lebih lanjut. Tetapi justru di Mapolsek ini pelaku meningga dunia sehingga dibawa lagi ke RS Bhayangkara.

Setelah ditelusuri latar belakang pelaku, tambah Agus, diketahui Batara ini adalah preman yg telah tergolong meresahkan warga sekitar. Suka mabuk-mabukan dan seorang residivis yg penuh tato. Istri warga bahkan istri anggota di kompleks asrama Koramil di sekitar TKP itu kerap diganggu.

“Makanya ketika dihubungi keluarganya setelah pelaku meninggal, hingga siang mereka belum mau menerima. Mungkin mereka malu atau takut,” tuturnya.

Adapun Kaharuddin, kata Pangdam VII/Wirabuana ini lagi, tetap mulai diproses karena sesuai aturan seandainya anggota melakukan suatu tindakan maka mulai dikerjakan pemeriksaan. Inspeksi ini bagi mengetahui tindakan itu telah prosedural atau tidak.

Kalau telah prosedural, tandasnya, maka hal ini mulai jadi perhatian buat kami segala bahwa prajurit tak boleh ragu-ragu dalam bertindak. Kalau tak prosedural maka mulai diproses seuai aturan yg berlaku, ada pasal-pasal yg menunggunya.

“Kita mulai lakukan pemeriksaan apakah tindakan Serka Kaharuddin ini telah sesuai tahapan seperti tembakan peringatan, bawa senjata milik surat izin atau tidak. Di TNI itu banyak aturannya,” kata Agus.

Sementara itu, Kapolrestabes Makassar, Kombes Polisi Rusdi Hartono yg juga ditemui di lokasi sama mengatakan, pelaku seorang residivis. Dia terlapor oleh Sari karena sudah melakukan upaya penyerangan. Tetapi karena Batara telah meninggal dunia maka dengan sendirinya gugur masalah ini.

“Karena pelaku telah meninggal dunia maka proses hukum masalah Batara selaku terlapor gugur dengan sendirinya. Adapun soal anggota TNI tersebut, menjadi domain institusi bersangkutan,” kata Rusdi Hartono.Baca juga:
Preman yg ditembak TNI akhirnya meninggal di kantor polisi
Ditangkap, 11 pemalak dihukum baca Al Fatihah & belajar salat
Ngeri, video bocah SMP dipalak preman cilik
Kapolda Sumsel janji sapu bersih preman pemalak sopir truk sayur
Mengamen tapi memaksa minta uang, 5 pemuda di Depok diamankan
Usai senggol mobil lain, sopir Avanza ancam warga karena gagal kabur
Tahun depan, Polda Bali bikin tim pemburu preman
Sumber: http://www.merdeka.com



Sumber Artikel : Cerita Preman Tersungkur Hingga Mati Ditembak Anggota TNI

Artikel Berita Terupdate Lainnya :

Scroll to top