Fakhri Subhana Haiti, putra Kapolri Jenderal Badrodin Haiti, baru saja merayakan kelulusannya sebagai jebolan pascasarjana bidang farmasi di Universitas Indonesia, Depok. Pemilihan bidang farmasi tentu menjadi tanda tanya. Apalagi ayahnya yaitu petinggi polisi di negeri ini.
Keputusan memilih farmasi berawal dari pengalamannya sedih melihat sang ibunda mengalami sakit sindrom Stevens Jhonson (SSJ). Penyakit itu semacam alergi terhadap obat. Dari situ, muncul keinginan Fakhri belajar mengenai farmasi.
“Jadi waktu aku masih kecil, ibu sakit. Akhirnya aku masuk dunia farmasi dengan enggak ada lagi keluarga yg sakit,” kata Fakhri, Sabtu (6/2).
Pemilihan Fakhri memilih perguruan tinggi negeri (PTN) bukan tanpa halangan berat. Pihak keluarga diakui kerap mendorong bagi melanjutkan sekolah di Akademi Kepolisian (Akpol).
Melalui diskusi panjang, akhirnya terbentuk sesuatu perjanjian dengan sang ibu. “Jadi dahulu untuk perjanjian sama ibu, kalau PTN enggak lulus baru pilihan keduanya Akpol,” ujarnya.
Cita-cita kecilnya akhirnya terwujud. Fakhri lulus PTN dan mengambil jurusan farmasi. Pilihan menjadi Akpol sementara ini dia kubur dalam-dalam.
Kini dia sudah lulus program pascasarjana farmasi. Untuk sementara, Fakhri menegaskan kalau dirinya mulai berkerja terlebih dulu. “Saya nanti mau kerja dulu,” terangnya.
Pilihan anaknya masuk farmasi dibanding polisi sepertinya dapat dimengerti Badrodin Haiti. Dia bahkan bangga putranya bisa lulus program pascasarjana.
Badrodin juga menyerahkan kepada anaknya terkait masa depan bakal dipilih. “Selanjutnya pilihan kepada anak aku apakah dia mau melanjutkan studinya atau kerja tempat yang lain dia yg menentukan. Kalau benar-benar ingin kerja ya silakan,” kata Badrodin.
Sumber: http://www.merdeka.com