Gresik – Melihat potensi dan prospek ke depan yg cerah, Menteri Perhubungan Ignasius Jonan berkeinginan menjadikan Bandara Harun Thohir di Bawean, Jatim, sebagai bandara komersial. Namun pendeknya landasan menjadi salah sesuatu kendalanya.
Terget Jonan ke depan adalah memanjangkan landasan Bandara Harun Thohir Bawean. Landasan yg ketika ini mempunyai panjang 930 meter, mulai dipanjangkan hingga 1.400 meter. Namun pembebasan lahan menjadi kendalanya.
“Kalau tanahnya disediakan, aku usahakan segera diperpanjang. Kalau tanah siap, aku pasti siap,” ujar Jonan seusai melakukan peresmian Bandara Harun Thohir di Bawean, Sabtu (30/1/2016).
Jonan mengatakan, ada usulan seandainya buat lahan tambahan panjang landasan sebaiknya dikerjakan dengan menguruk laut (reklamasi). Namun usulan itu dinilai Jonan sangat berat, khususnya dari segi biaya.
“Walaupun kalau meminjam istilah Gubernur Jatim cuma berantem sama ikan, namun ya berat sekali biayanya,” kata mantan Dirut PT KAI itu.
Selain itu, kata Jonan, tanah hasil reklamasi dinilainya tak stabil. Yang pasti Jonan meminta agar disediakan tanah sepanjang 300-400 meter bagi tambahan agar Bandara Harun Thohir dapat didarati pesawat lebih besar seperti ATR 42.
Status Bandara Harun Thohir ketika ini yaitu bandara perintis yg itu berarti masih disubsidi oleh pemerintah. Subsidi diberikan hingga setahun, sampai Desember 2016, dalam bentuk kerjasama antara pemerintah dengan PT Airfast Indonesia yg yaitu satu-satunya maskapai yg melayani jalur Surabaya-Bawean dan sebaliknya.
Perihal subsidi mulai dievaluasi setiap tiga bulan. Dari evaluasi itu mulai dilihat perkembangan peningkatan jumlah penumpang. Dari situ mulai ditentukan apakah penerbangan mulai ditambah atukah subsidi dicabut.
Harga tiket bagi Surabaya-Bawean adalah Rp 302.200 sementara harga tiket buat Bawean-Surabaya adalah Rp 244.200. Yang membikin beda harga tiket adalah airport tax kedua bandara yg berbeda. Airport tax Juanda Rp 75 ribu sementara airport tax Harun Thohir Rp 17 ribu.
“Subsidi buat Bandara (Harun Thohir) ini Rp 12 miliar selama setahun,” lanjut Jonan.
Tanpa menyebut target waktu, Jonan berkeinginan agar Bandara Harun Thohir langsung menjadi bandara komersial sesegera mungkin. Jika landasan telah diperpanjang menjadi 1.400 meter maka pesawat yg lebih besar seperti ATR 42 mampu mendarat.
“Jika diperpanjang 1.400 meter aku pikir tak perlu disubsidi lagi karena pesawatnya telah komersial, mampu Wings Air, Susi Air, Airfast yg ATR 42,” terang Jonan.
Dengan penumpang yg lebih banyak, Jonan percaya tiketnya mulai lebih murah walau tak disubsidi. Jadwal penerbangan pun dapat saja sehari menjadi beberapa kali.
“Saya percaya tiketnya mulai lebih murah walau tanpa subsidi. Kan pilotnya mbayarnya sama, meskipun penumpangnya mau 15 atau 50,” tandas Jonan.
(iwd/miq)
Sumber: http://news.detik.com