Jakarta -Meski harga daging ayam naik akibat dipicu mahalnya pakan ternak, Kementerian Pertanian (Kementan) menyatakan tak mulai melepas jagung impor yg sampai sekarang masih ditahan di pelabuhan dan gudang-gudang punya importir.
Menteri Pertanian (Mentan), Amran Sulaiman mengungkapkan, langkah ini dikerjakan agar petani jagung dapat menikmati harga yg wajar. Dia menilai, tidak persoalan petani mampu menikmatinya bagi sementara waktu, meskipun hal tersebut diprotes produsen pakan ternak.
“Biarkan peternak beli mahal sedikit, petaninya dapat menikmati harga yg mahal sedikit juga. Ini mulai membuat titik keseimbangan,” kata Amran ketika meeting kerja dengan Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat RI di Gedung DPR, Jakarta, Senin (25/1/2016).
Untuk mengatasi persoalan produsen pakan ternak yg masih mengalami kesulitan, pihaknya menargetkan waktu hingga 2 pekan ke depan buat mencari solusi.
“Dua pekan lagi kalian kalian tentukan solusinya. Agak pahit memang,” jelasnya.
Selain itu, Amran beralasan, larangan impor jagung terpaksa dilakukannya setelah berkaca pada pengalaman sebelumnya, dimana produsen pakan ternyata tak menyanggupi bagi menyerap jagung lokal sesuai kesepakatan.
“Dulu pernah kita kumpulkan 101 bupati yg daerahnya produksi jagung. Semua bupati dan importir tanda tangan bagi membeli jagung petani, kita anggap itu telah salaman kalian anggap omongannya mampu dipegang. Begitu panen puncak mereka nggak mampu serap, alasannya gudang telah penuh,” tandas Amran.
Akibat tidak terserapnya jagung lokal, lanjut Amran, harga jagung di tingkat petani segera anjlok hingga Rp 1.500/kg.
“Orang di pinggir Gunung Dompu terpaksa jual jagung Rp 1.500/kg, mereka cuma pasrah, mau teriak ke siapa,” pungkasnya.
(hns/hns)
Sumber: http://ift.tt/1m2K6Bu