Masyarakat Indonesia Dianggap Salah Fokus Dalam Sikapi Terorisme

JAKARTA, KOMPAS.com – Pengamat Militer Connie Rahakundini meminta masyarakat Indonesia bersikap yg lebih tegas, apakah ISIS mau dianggap ancaman atau tidak.

Pasalnya, usai kejadian bom di Kawasan Sarinah, Jalan MH Thamrin, obrolan yg berkembang di masyarakat justru pada hal-hal yang lain yg tidak berkaitan dengan terorisme itu sendiri.

Misalnya, perhatian masyarakat terarah pada gaya berpakaian para polisi yg bertugas atau munculnya meme dengan foto terkait pelaku pengeboman.

Meski sikap tersebut menyiratkan bahwa masyarakat Indonesia tak takut mulai ancaman teror, namun Connie menilai sikap tersebut lebih baik tak dikerjakan secara berlebihan.

“Kalau berkepanjangan berbahaya. Kita tak boleh salah fokus. Salah fokus kami ini tak boleh kelamaan,” ujar Connie dalam acara diskusi di Jakarta, Selasa (19/1/2016).

Connie juga menyinggung tempat kejadian masalah (TKP) yg cuma dalam waktu dua jam telah bisa dibuka normal. Ini seolah menyiratkan kalimat “kami tak takut” atau “kami dapat menguasai ini”.

screenshot Kumpulan berbagai meme kreasi netizen tentang aksi teror bom di Sarinah

Namun, ia mengingatkan, lokasi tersebut dekat dengan instansi-instansi penting, akan dari Kantor Kementerian Koordinator bidang Politik, Hukum dan Keamanan, Kementerian Pertahanan, dan Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB).

Lokasi teror juga berdekatan dengan Istana Wakil Presiden, bahkan cuma berjarak 2,5km dari Istana Negara.

“Ini ring sesuatu Istana Negara. Bayangkan kalau Presiden lewat. Apa yg terjadi,” ujarnya.

Menurut Connie, segala pihak akan dari pemerintah hingga masyarakat harus lebih serius dalam memandang dan menyikapi ancaman terorisme.

Ia mencontohkan sikap Presiden Prancis, François Hollande yg dengan tegas menyatakan “Prancis harus menghancurkan terorisme” usai peristiwa bom dan penembakan di Paris, Perancis.

Connie mengaku tak melihat ada ketegasan dari pemerintah Indonesia seperti sikap yg ditunjukkan Presiden Perancis.

“Sikap masyarakat harus lebih tegas mau arahnya kemana. Kalau ancaman kenapa dianggap ancaman, kalau tak ancaman juga seperti apa,” tutur Connie.

Langkah lainnya bagi menghadapi ancaman terorisme, lanjut dia, adalah mengintensifkan koordinasi. Menurut dia, sekuat apapun sebuah negara, tetap dibutuhkan koalisi atau pertukaran keterangan antarnegara.

“Sehingga kalau ada warning dari negara-negaea tertentu, travel warning misalnya. Coba tanya kenapa ada travel warning. Tanya detailnya apa,” ucap Connie.

Selain itu, menurut Connie, lintas departemen harus semakin kuat. Misalnya Badan Intelejen Negara (BIN) yg fungsi sebagai intelejennya harua diperkuat, atau Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) yg harus dipertegas fungsinya.

“BNPT itu coordinating department, malah kesannya tak berbuat apa-apa. Pemerintah harus tegas mau diapakan BNPT itu,” tuturnya.

Sumber: http://ift.tt/1mmsIby



Sumber Artikel : Masyarakat Indonesia Dianggap Salah Fokus Dalam Sikapi Terorisme

Artikel Berita Terupdate Lainnya :

Scroll to top