Jakarta, Saya ingat, ketika aku masih menjadi peserta program pendidikan dokter spesialis kedokteran jiwa di FKUI, persoalan penggunaan heroin (atau putaw/PT) masih ada walaupun mungkin tak sebanyak 10 tahun sebelumnya. Saat itu awal tahun 2000, orang akan banyak mengenal sabu dan ekstasi sebagai narkoba macam stimulan yg katanya kalau dipakai sekali-kali saja tak bikin ketergantungan dan sakaw (reaksi putus zat/withdrawal) seganas heroin.
Sabu dan ekstasi adalah narkoba macam stimulan yg mengandung zat dasar amphetamine. Dalam situs National Institute on Drug Abuse, metamphetamine (sering disebut juga meth) yg terkandung dalam sabu yaitu zat stimulan yg sangat adiktif dan sangat berpotensi disalahgunakan. Meth bekerja bagi menimbulkan rasa senang yg luar biasa (euforia) yg didapatkan dari peningkatan berlebihan neurotransmitter (zat kimia penghubung di otak) dopamine di otak akibat rangsangan meth di sana.
Selain itu juga pemakaian sabu mulai menimbulkan motivasi, semangat, peningkatan aktivitas motorik, peningkatan rasa senang yg berlebihan dua orang menyampaikan meningkatkan kenikmatan berhubungan seks. Penggunaan rutin meth mulai menimbulkan ketergantungan yg sulit dilepaskan.
Berbeda dengan sabu, ekstasi adalah sejenis ampfetamine yg disebut dalam bahasa kimianya sebagai MDMA (3,4-metilenedioksi-metamfetamina). Ekstasi tak seperti sabu yg lebih memengaruhi neurotransmitter dopamine, ekstasi lebih mempengaruhi serotonin walaupun juga memengaruhi sedikit dopamine dan norephinephrine. Peningkatan serotonin yg berlebihan akibat pemakaian ekstasi diharapkan pemakainya buat meningkatkan mood atau suasana perasaan secara cepat.
Serotonin sendiri memang yaitu zat kimia di otak yg tidak jarang dihubungkan dengan pengaturan suasana perasaan, tidur dan nafsu makan. Penggunaan rutin ekstasi mulai menimbulkan terjadinya ketidaseimbangan serotonin di otak yg mampu memicu terjadinya depresi, kemunduran daya ingat, gangguan cemas dan kesulitan konsentrasi.
Reaksi mengancam jiwa yg dapat didapat saat menggunakan ekstasi adalah suhu tubuh yg meningkat tinggi di luar normal (hipertermia), irama jantung yg tak teratur (aritmia), gagal ginjal dan dua masalah menimbulkan perdarahan di otak.
Bagaimana Jika Pakai Sekali-kali?
Banyak orang salah paham tentang pemakaian sabu dan ekstasi, di mana dikatakan seandainya orang menggunakannya sekali-kali saja tak mulai mengalami masalah. Hal ini tentunya tak tepat. Stimulasi susunan saraf pusat walaupun sekali-sekali mulai menimbulkan efek yg dapat dialami bukan cuma ketika menggunakan narkoba stimulan tapi juga mampu lama sesudah pemakain zat ini.
Dalam praktik, tidak jarang aku menemukan pasien dengan gangguan cemas dan gangguan depresi diketahui bahwa terdapat riwayat pemakaian sabu atau ekstasi di masa lalu. Beberapa pasien menyampaikan bahwa rasa depresi yg dialami sama atau mirip dengan ketika dia mengalami reaksi setelah menggunakan ekstasi atau sabu.
Pasien yg mengalami gangguan cemas dan depresi serta mempunyai riwayat penggunaan ekstasi dan sabu di masa lalu, biasanya kadang lama memperoleh perbaikan bagi gejala depresi dan cemasnya dibandingkan pasien yg tak pernah memakai zat narkoba stimulan tersebut.
Potensi bahaya untuk tubuh kalian semakin bertambah dengan adanya tambahan zat yang lain di ekstasi atau sabu yg ditambahkan secara sengaja oleh si pembuat buat tidak mengurangi efek sabu atau ekstasi. Sering kali zat yg digunakan sebenarnya adalah zat kimia berbahaya buat tubuh yg diolah oleh si pembuat sabu di lab-lab pembuatan sabu.
Pesan aku adalah jangan bermain-main dengan otak kita. Memberikan tambahan zat di sistem susunan saraf pusat kami secara sengaja bagi memanipulasinya mulai menimbulkan persoalan di otak. Biarkan otak kalian bekerja secara wajar.
Jika menginginkan kesenangan maka saran yg sehat adalah dengan berolahraga, meditasi, tertawa, berhubungan seks dengan pasangan sah dan makan cabai. Aktivitas ini mampu meningkatkan endorfin (endo morfine, alias morfin internal yg dihasilkan tubuh sendiri) yg dapat membuat kami bahagia. Jangan cari kebahagian semu lewat narkoba.
Semoga tulisan ini bermanfaat. Salam sehat jiwa.
*) dr Andri,SpKJ,FAPM adalah psikiater Klinik Psikosomatik RS OMNI Alam Sutera. Twitter: @mbahndi
(vit/vit)
Sumber: http://health.detik.com