Kenyamanan dan kemanan penonton jadi prioritas penting pihak produksi penyelenggara Jakarta International BNI Java Jazz Festival 2016 yg mulai digelar pada tanggal 4-6 Maret mendatang di JI Expo. Kenyamanan itu pun ada dalam bentuk pengurangan jumlah panggung, rencana penyediaan shelter bus, sampai larangan di venue.
Menurut Dewi Gontha selaku presdir Java Jazz Production, pengurangan panggung dari 17 menjadi 11 diiringi dengan bertambahnya kapasitas tiap stage. Selain itu bagi tahun ini panggung di lantai 6 ditiadakan karena banyak penonton yg merasa kesulitan bagi naik. Kalau telah begitu yg kasihan adalah artis yg perform karena cuma ditonton 10 – 20 orang saja.
Tahun dahulu pihak produksi juga menyediakan shelter bekerjasama dengan salah sesuatu armada transportasi. Untuk tahun ini Dewi berharap juga bakal ada.
“Nanti kalo udah ada kepastian kalian share lagi. Cuma memang tahun dahulu lebih banyak orang keluar dari Kemayoran daripada pas tiba ke Kemayorannya. Jadi kebanyakan penonton tiba sendiri, pas pulang baru bareng bus shelter,” jelas Dewi usai preskon di Hotel Sultan, Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (26/1).
Larangan juga pastinya mulai diterapkan di acara ini. Selain penggunaan tongsis, panitia juga mulai melarang buat membawa kamera profesional. Sebelumnya memang tidak dilarang, tetapi setelah tahu kalau ini disalahgunakan, mereka akhirnya memberlakukan aturan ini.
“Pada ketika kami menegur tak boleh rekam, mereka nggak mau dengar. Sehingga kalian yg jadi masalah. Makanya sekarang kalian keluarkan nggak boleh bawa kamera profesional, kamera digital, go pro dan sejenisnya. Nggak boleh bawa tongsis juga. Karena bakal ganggu orang yang nonton dan sedikit agak bahaya juga ya,” pungkas Dewi. So, bagi yg mau nonton udah jelas ya larangannya?
Sumber: http://ift.tt/1cYzikY