Duel panas terjadi di Camp Nou pada Sabtu kemarin (30/1). Dua kesebelasan penghuni papan atas La Liga, Barcelona dan Atletico Madrid, saling berjibaku. Pertandingan ini berakhir dengan skor 2-1 buat kemenangan Barca.
Meski skor akhir tampak mencerminkan pertandingan yg ketat, sejatinya pertandingan ini agak timpang, khususnya pada babak kedua. Hal ini dikarenakan Atletico harus bermain dengan sembilan pemain usai Filipe Luis dan Diego Godin mendapatkan kartu merah.
Meski kalah jumlah pemain, nyatanya pada babak kedua Atletico cukup berhasil menebar ancaman buat lini pertahanan Barca. Karena itulah pada babak kedua Barca bermain hati-hati dan tidak terlalu bernafsu tidak mengurangi gol.
Atletico Menyerang Satu Sisi Barca bagi Menciptakan Ruang Kosong di Sisi Lainnya
Atletico turun dengan formasi 4-4-1-1 pada laga ini. Antoine Griezmann ditemani Yannick Carrasco yg bermain sebagai gelandang serang di lini depan. Ini artinya Luciano Vietto yg biasanya menjadi tandem Griezmann di lini depan harus rela duduk di bangku cadangan.
Namun pada praktiknya, Carrasco lebih kadang bermain melebar. Sisi kiri bahkan menjadi area yg lebih kadang ia tempati. Perubahan pola ini terjadi saat Atletico menguasai bola. Saat membangun serangan dan hendak memasuki area sepertiga akhir, Atleti mengubah formasinya menjadi 4-3-3.
Saat Carrasco menguasai bola di sisi kiri atau arah bola serangan mengarah ke sisi kiri, maka Koke yg pada pola dasar bermain sebagai sayap kiri mulai bergeser ke tengah, mendekati Augusto Fernandez dan Gabi. Pun begitu ketika Saul Niguez di sisi kanan menguasai bola di mana Koke merapatkan jarak dengan Fernandez dan Gabi.
Perubahan posisi para pemain Atleti ketika menyerang
Menyerang lewat sayap sendiri sepertinya dikerjakan bagi menciptakan ruang kosong di area berlawanan. Hal ini terkait gaya bertahan Barca yg bermain begitu meeting (narrow) ketika bertahan. Gaya pertahanan meeting ini diikuti oleh pergerakan yg terstruktur dari setiap para pemain Barca. Sehingga saat bertahan, para pemain Barca mulai kelihatan mengikuti bola.
Namun kelemahan dari strategi Barca ini adalah terciptanya ruang kosong di sisi sayap yg tidak sedang mendapatkan tekanan. Jika Atleti menyerang lewat sisi kiri pertahanan Barca, maka sisi kanan pertahanan Barca mulai kosong, begitu juga sebaliknya.
Dan inilah yg terjadi pada gol pertama Atletico yg diciptakan Koke. Niguez, Griezmann, dan Carrasco merapat di sisi sebelah kiri pertahanan Barca. Hal ini membuat para pemain Barca merapatkan jarak antarpemain di sisi kiri pertahanan mereka sehingga terciptalah ruang kosong di sisi kanan pertahanan. Koke yg muncul dari lini kedua masuk dan tanpa pengawalan menyambut umpan silang Niguez.
Proses sebelum terjadinya gol Koke
Pada gambar di atas kelihatan bagaimana para pemain Barca merapatkan jarak antarpemain bagi mengunci Niguez, Griezmann, dan Carrasco. Namun, Niguez berhasil melepaskan diri dan mendapatkan keleluasaan buat memberikan umpan silang. Dari situ, Koke masuk ke area jatuhnya umpan silang. Karena jarak yg merapat tersebut membuat Koke tanpa pengawalan dapat menyambutnya dan menjadi gol.
Karenanya setiap menyerang Atletico terus berusaha masuk dari sayap bagi kemudian mengganti arah serangan dengan umpan silang. Konvoi Griezmann dan Carrasco sendiri membuat lini pertahanan Barca kesulitan membendung serangan Atletico.
Pada babak pertama, Atletico berhasil melepas lima tembakan. Jumlah ini tidak jauh dari jumlah tembakan yg diperoleh Barca, enam kali. Ini artinya Atletico cukup dapat mengorganisir pertahanan dan serangan.
Ketika bertahan, Atletico sendiri kembali pada pakem 4-4-1-1 atau 4-4-2. Koke mulai kembali bermain melebar sementara Griezmann dan Carrasco bergiliran memberikan tekanan pada Barca yg membangun serangan dari lini pertahananan dengan umpan-umpan pendeknya.
Pola empat pemain sejajar berjumlah beberapa baris ini buat meredam Barca yg menyerang lewat samping. Penempatan Koke di sisi kiri pun cukup efektif di mana ia cukup berhasil mencatatkan delapan tekel, terbanyak pada laga ini, sehingga membuat Barca kesulitan menyerang lewat sisi kanan. Disiplinnya Koke membuat tugas Filipe Luis menjadi lebih mudah.
Lini pertahanan Atletico pun tidak kaku menghadapi serangan cair Barca. Mereka mencoba menahan alur serangan Barca dengan garis pertahanan tinggi, dulu karena Barca terkesan lambat dalam menyerang para pemain Atletico secara terorganisir turun lebih ke dalam dan merapatkan jarak antarpemain.
Atletico menahan serangan Barca dengan menaikkan garis pertahanan
Variasi Agresi Barca
Barca berhasil mencetak beberapa gol pada laga ini. Sempat tertinggal lebih dahulu lewat gol Koke pada menit ke-10, Barca baru dapat menyamakan kedudukan 20 menit kemudian lewat gol Lionel Messi. Gol pembalik kondisi terjadi delapan menit kemudian lewat gol dari Luis Suarez.
Garis pertahanan tinggi yg diperagakan Atletico sempat membuat Barca mengalami kebuntuan. Apalagi ketangguhan Koke di sisi kiri membuat alur operan pada Messi dari Daniel Alves yg beroperasi di sisi kanan penyerangan kerap terputus.
Namun, Barca berhasil memecahkan kuatnya pertahanan Atletico ini dengan beberapa cara. Cara yg pertama adalah dengan membuat Messi lebih beroperasi di area tengah, dan cara kedua dengan memberikan umpan segera ke jantung pertahanan.
Heatmap pergerakan Messi pada 15 menit pertama (kiri) dan pada menit ke-15 sampai 30 (kanan)
Pada gambar di atas kelihatan bahwa pada awalnya Messi ditempatkan di sisi kanan penyerangan. Namun, karena Koke dan Filipe Luis, ditambah Gabi, membuat Barca kesulitan menembus lini partahanan Atletico, Messi pun dipindahkan ke area tengah. Taktik yg berhasil karena ketika Messi mencetak gol pertama Barca pada laga ini, ia menerima bola cutback Jordi Alba dari tengah.
Pergerakan Messi sebelum mencetak gol penyama kedudukan Barca yg akan bermain di tengah
Lantas bagaimana dengan gol kedua? Gol kedua terbilang cukup mengagetkan Atletico. Pasalnya, mereka tampak tidak mengira bahwa Barca memainkan umpan direct dari belakang ke jantung pertahanan. Pada gol kedua, Alves memberikan umpan panjang pada Suarez yg yaitu pemain terdepan Barca.
Situasi sebelum Alves memberikan assist pada Suarez
Gol kedua dari Barca tentunya yaitu bagian dari risiko Atletico menaikkan garis pertahanan. Barca sendiri sebenarnya cukup jarang memainkan umpan-umpan direct karena khas dengan umpan-umpan pendeknya. Namun, menghadapi lini pertahanan lawan dengan garis pertahanan tinggi seperti yg dipraktikkan Atletico, Barca berusaha menciptakan peluang dengan memanfaatkan area kosong di belakang garis pertahanan terakhir lawan.
Babak Kedua Barca Mengendalikan Tempo
Saat tertinggal sesuatu gol, Barca bermain dengan tempo cepat. Bola bergulir dari kaki ke kaki pemain dengan cepat. Bola diupayakan sesegera mungkin ke kotak penalti.
Namun Atletico milik cara khusus bagi menghentikan serangan Barca, merupakan merebut bola seagresif mungkin. Tak heran para pemain Atletico banyak yg dihadiahi kartu kuning pada laga ini.
Petaka buat Atletico sendiri lahir pada menit ke-44 atau jelang babak pertama berakhir. Filipe Luis melanggar Messi dengan keras, di mana kaki bek yang berasal Brasil itu terangkat terlalu tinggi. Atas pelanggaran ini, dia segera diganjar kartu merah.
Pada menit ke-65, giliran sang kapten, Diego Godin, yg diganjar kartu merah. Kali ini Godin dikartu merah setelah mendapatkan kartu kuning kedua. Atletico pun harus bermain dengan sembilan pemain di sisa 25 menit pertandingan.
Atletico tercatat melakukan 18 pelanggaran pada laga ini, berbeda dengan Barca yg cuma tujuh kali melanggar dalam 90 menit. Tak ada sesuatu pun pemain Barca yg menerima kartu kuning. Ad interim bagi Atletico, wasit memberikan enam kartu kuning.
Dengan lawan yg kalah jumlah pemain, Barca bermain aman pada babak kedua. Tempo cepat tidak lagi dipraktikkan. Bahkan Barca cenderung memberikan keleluasaan buat para pemain Atletico bagi keluar dari sarangnya. Setelah kalah jumlah pemain, Atletico memakai formasi 4-3-1 dengan menumpuk pemain di tengah dulu mengandalkan serangan balik.
Serangan balik ini sempat mengancam gawang Barca yg dikawal Claudio Bravo. Umpan silang dari Niguez nyaris dapat dimaksimalkan Griezmann buat mencetak gol penyama kedudukan. Namun bola yg hendak mengarah ke gawang masih membentur kaki Bravo di mana kemudian cuma melahirkan sepak pojok.
Barca tampak menyadari bahwa potensi serangan balik Atletico yg mengandalkan kedua sayapnya masih berbahaya meskipun kalah jumlah pemain. Karenanya tempo diperlambat agar para pemain Barca tetap berada pada posisinya, sehingga saat menghadapi serangan balik, Barca tidak kalah jumlah atau tetap unggul jumlah di lini pertahanan sendiri.
Kesimpulan
Pertandingan dengan tempo yg tinggi terjadi pada babak pertama. Atletico menyerang lewat kedua sayap berhasil mencuri gol melalui Koke setelah memanfaatkan ruang kosong di sisi kanan pertahanan Barca berkat menitikberatkan serangan di sisi kiri.
Namun, Barca berhasil mengubah strateginya termasuk membuat Messi bermain di area tengah setelah awalnya beroperasi di area kanan. Gol kedua lahir berkat Barca yg berhasil menaklukkan garis pertahanan tinggi Atletico.
Pada babak kedua, Barca memang jarang menguasai bola meskipun unggul jumlah pemain. Namun hal itu dikerjakan buat menjaga kemenangan dan meredam serangan balik Atletico yg berbahaya. Taktik itu berhasil di mana skor 2-1 tidak berubah hingga akhir pertandingan.
(nds/mfi)
Sumber: http://sport.detik.com